Pengertian Istilah Panggilan Antum, Afwan, Akhi, Ikhwan, Wa iyyak dan Barokallah

Pengertian Istilah Panggilah Antum, Na’am, Afwan, akhi, ukhti, ikhwan, akhwat, syukron, wa iyyak, barokallah,dan Jazakumullah. Tetapi anda belum tahu artinya dan contohnya. Jangan khawatir insya allah kammi akan membantu untuk menuliskan antum artinya dkk.

Mungkin anda sudah sering mendengar istilah-istilah seperti antum, na’am, akhi, dan jazakumullah.

Insya allah dengan sedikit ilmu yang kami berikan semoga bermanfaat untuk antum. kami akan mencoba untuk menyampaikan arti dari kata-kata diatas tersebut dan bagaimana cara membalas jawabanya, Antum pasti penasaran semuakan! Silahkan baca sampai selesai ya,,,

 

Pengertian Kata-Kata Dalam Bahasa Arab

 

  •  Antum :

 

Antum artinya kamu,

Contohnya : Bagaimana kabar antum(kamu)?

 

  • Na’am :

 

Na’am artinya ya, begitulah,

Contohnya :

  1. Apakah antum mau pergi sekarang?
  2. Na’am(ya) saya mau pergi sekarang.

 

  • Afwan :

 

Afwan artinya maaf

Contohnya : Afwan(maaf) saya terlambat datang.

 

  • Akhi & Ukhti

 

Akhi artinya saudara-ku (laki-laki)
Ukhti artinya saudara-ku (perempuan)

 

Contohnya :

  1.  Akhi dari mana?
  2. Ukhti mau kemana?

 

  • Ikhwan & Akhwat

Ikhwan artinya panggilan untuk (laki-laki) lebih dari 3 orang.
Akhwat artinya panggialn untuk (perempuan) lebih dari 3 orang.

 

  • Syukron Katsiiran

 

Syukron katsiiran artinya terima kasih banyak.

 

Jawabanya : Afwan (sama-sama)

 

“Tetapi Rasullulah untuk menganjurkan berterimakasih dan doa”.

 

  • Jazakallahu Khairan Katsiiran

 

  1. Jaza : Balasan
  2. Ka : Mu (laki-laki)
  3. Ki : Mu (perempuan)
  4. Kum : Kalian (laki” & perempuan)
  5. Khairan : Kebaikan
  6. Katsiiran : Banyak

Artinya : ” Semoga Allah membalas-mu semua dengan kebaikan yang banyak”

 

Jawabannya :

“Wa iyyak” artinya semoga juga kebaikan untukmu.

 

  • Barokallah

 

  1. Barokallah artinya semoga Allah memberkahi
  2.  Fiik artinya Untuk-mu
  3. Fiikum artinya untuk kalian

Jadi kata sempurnanya barokallah fiik atau barokallah fiikum.

 

Jawabannya :

 

“Wa Fiik Barokallah” artinya dan juag keberkahan-Nya untuk kalian.

 

Baca juga :

 

Penjelasan Makna Antum Didalam Al-quran

Antum yang artinya ’kalian’ yakni ’kamu’ tapi dalam jumlah yang lebih dari dua orang. Misalnya tiga orang atau lebih. Sehingga, kalau kita menggunakan kata ’antum’ untuk menyebut satu orang di Mesir, kita akan ditertawakan oleh orang Arab Mesir. ’’Hah, antum? Ana musy aktsar min itsnain..!’’ begitu kata orang Mesir. ’’Hah, antum. Saya kan tidak lebih dari dua orang..?’’

Orang Mesir, kalau ingin menghaluskan ungkapannya kepada seseorang yang dihormati, bukan dengan mengganti kata anta menjadi antum atau ana menjadi nahnu, melainkan dengan sebutan penghormatan, seperti:

Hadratuka disingkat menjadi hadratak atau Siyadatuka disingkatSiyadtak.

Keduanya memiliki makna ’Anda yang terhormat’. Atau menambahkan sebutan penghormatan di belakang kata anta, seperti:

Anta, ya basya atau anta, ya sayyid.. yang bemakna engkau, wahai Tuan. Dan lain sebagainya.

Jangankan kepada manusia, kepada Allah pun mereka berdoa dengan menggunakan dhomir (kata ganti) anta, bukan antum. Misalnya,

Allahumma anta salam waminka salam… (Ya Allah Engkaulah kedamaian dan dari Engkaulah bersumber kedamaian…). Atau kepada rasulullah SAW: Assalamualaika ayyuhannabi … (Kedamaian untukmu wahai Nabi …)

Begitu juga kita hanya menuju satu orang, seperti juga shalawat nabi didalam shalat.

 

Untuk menggunakan kata ganti yang baik anta, dan nahnu untuk menghaluskan kata ana diartikan dalam bahasa Jawa. Yakni, panjenengan untuk menggantikan kata ’kowe’ bagi orang yang dihormati. Dan kawula untuk menggantikan kata aku. Dalam bahasa Indonesia pun dikenal dengan istilah ’Anda’ dan ’saya’, yang dianggap lebih halus dibandingkan ’kamu’ dan ’aku’, kira-kira begitulah istimewanya bahasa Arab dan bahasa Indonesia.

Namun, didalam kaidah bahasa Arab tidak tidak seperti itu. Karena Bahasa Arab adalah bahasa yang baik dan menghargai kesederajatan dalam menggunakan kata ganti. Sehingga kata ganti ’ana’ atau aku, akan berlaku untuk semua pelaku tunggal (satu), sedangkan ’nahnu’ (kami) untuk pelaku jamak. Demikian pula ’anta’ (kamu) untuk tunggal, dan ’antum’ (kalian) untuk jamak. Karena itu, dalam potongan ayat berikut ini meskipun Nabi Ibrahim berkata kepada robnya, dia tetap menggunakan kata ’aku’ dan ’Engkau’.

QS. Al Baqarah (2): 260

QS. Al Bagarah (2): 260
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku (arini) bagaimana Engkau

menghidupkan (tuhyi) orang mati” …

 

Dalam bahasa Arab, penerapan makna kedalam bahasa Indonesia sangatlah berbeda seperti kata Qala (berkata). Ini yang berarti berlaku untuk semua orang. Mulai dari orang awam, nabi dan rasul, bahkan Allah. Tetapi, jika di artika kedalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi: kita berkata, Nabi bersabda, Allah berfirman. Jika, kata ini di samakan maka akan terjadi makna yang salah.

Berikut ini akan kami kutipkan ayat di atas selengkapnya, yang menunjukkan kata (qala) yang diartikan dengan istilah yang berbeda-beda dalam bahasa Indonesia, menjadi: ’berkata’ dan ’berfirman’.

Antum Artinya Dalam QS. Al Baqarah (2): 260

 

QS. Al Bagarah (2): 260
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ  ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata (qala): “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah SWT berfirman (qala): “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab (qala): “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman (qala): “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Penjelasan

 

Kemudian kata ‘wahyu’ yang tidak sembarang di gunakan dalam bahasa Indonesia, tetapi hanya digunakan untuk para Nabi dan Rosul. Seperti, firman Allah yang ditunjukan kepada Nabi dan Rasul. Untuk orang yang lebih rendah kehormatanya, tidak boleh menggunakan istilah ’wahyu’ karena sama saja dianggap menyetarakan diri dengan para nabi dan rosul.

Padahal dalam al Qur’an, istilah ’wahyu’ adalah istilah umum yang digunakan kepada malaikat, nabi, orang biasa, lebah, dan alam semesta. Dalam kebanyakan kitab terjemah,’wahyu’ diterjemahkan dengan istilah ’ilham’ ketika digunakan untuk orang biasa. Ini disebabkan karena bahasa Indonesia yang salah dalam memaknai kalimat tersebut.

Antum Artinya Dalam QS. Fush shilat (41): 12

 

QS. Fush shilat (41): 12
Maka Dia yang menjadikan tujuh lagit dalam dua masa dan mewahyukan (auha) pada setia langit urusannya. Dan kami hiasi langit yang saling berdekatan dengan bintang-bintang yang saling bercermelang dan kami memeliharakan dengan sebai-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui.

Jadi, kita harus memperhatikan makna bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa arab yang aslinya. Supaya tidak terjadi kesalahan dalam memaknai yang berbeda. Kalimat kata ‘kami’ dan ‘Aku’ adalah sebagi kata ganti kepda Allah yang paling banyak dipertanyakan. Dimaksud dengan kata ‘Kami’ oleh Allah yang bermaksud untuk menghaluskan bahasa.
Menurut saya ini belum tepat. Masa, Allah menghaluskan bahasa untuk hamba-Nya.
Mestinya, seperti ini yang benar adalah hamba yang menghaluskan bahasa untuk Allah, yang dari kata ‘Aku’ menjadi kata ‘Saya’.

Begitu juga seorang hamba yang menyebutkan kata Allah dengan kata ‘antum’ sebagai kata pengganti kata ‘anta’, jika dalam konsisten penggunaan bahasa dengan alasan tersebut. Tetapi, para Nabi tetap saja mengguanakan kata ‘anta’ untuk Allah SWT. Didalam Al Quran pun menggunakan kata ganti tersebut secara egaliter, apa adanya dalam berbagai ayatanya.

Antum Artinya Dalam QS. Al Baqarah (2): 40

 

QS. Al Baqarah (2): 40
Hai babi Ismail, ingatlah atas nikmat-Ku yang telah Aku anugrakan kepadamu, dan tunaikanlah janjimu kapada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk). 

Betapa kuatnya ‘karater’ yang Allah berikan dalam ayat-ayat tersebut, sedangkan pengguna kami ‘kami’ menujukkan Allah yang melibatkan kepada mahluk yang diceritakan tersebut.
Misalnya: Ketika menurunkan wahyu dan melihara Al quran. Karena, Allah melibatkan malaikat untuk menyampaikan wahyu kepda para nabi.

Antum Artinya Dalam QS. Al Hijr (15): 9

 

QS. Al Hijr (15): 9
Sesungguhnya Kami-Lah yang telah menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memelihara. Jadi, ketika Allah menurunkan rezeki kepada hambanya, Allah yang telah menurunkan rezeki kepada seseorang dengan cara langsung tanpa ada perantara, yang selalu dilewatkan orang lain atau makhluk lain sebagai penyampai rezeki kepadanya.

Antum Artinya Dalam QS. Al Hijr (15): 20-22

 

QS. Al Hijr (15): 20-22
Dan Kami telah menjadikan untukmu (dibumi) keperluan-keperluan didalam kehidup, dan makhluk-makhluk yang kalian sekali-kali bukanlah pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan di sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. Dan Kami telah meniupkan angin untuk memberikan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami berikan sebuah minum kamu dengan air hujan itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

Ataupun, saat Allah menciptakan manusia, dan Allah juga menggunakan kata ‘kami’. Karena pada proses penciptaan mnusia, Allah mengunakan kata ‘jasa’ orang tua kiat, disertai denga dokter, bidan dan ahli gizi, misalnya.

Antum Artinya Dalam QS. Al Mukminun (23): 12-14

 

QS. Al Mukminun (23): 12-14
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati yang (berasal) dari tanah lihat yang kortor. Kemudian Kami jadikan saripati itu dengan air mani dalam tempat yang kokoh yaitu (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (yang menempel di dinding rahim), lalu alaqoh itu Kami jadikan segumpal daging, kemudian segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, dan tulang belulang itu Kami jadikan dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) makhluk. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Namun, yang kita pahami adalah dari sisi ketauhidan. Untuk menggunakan kata ‘kami itu sama sekali tidak sama maknanya ‘Allah banyak’. Karena apa? karena sebenernya segala yang keanekaragaman isi alam semesta ini adalah hanya sebagi tanda-tanda keberadaan Diri-Nya. Bukankah Allah adalah Dzat yang Maha meliputi segalanya.

Sehingga semua nama dan ‘kata ganti’ untuk menyebutkan Diri-Nya sama sekali tidak memecahkan Dzat-Nya menjadi beberapa. Karena segala yang ada tidak lain adalah Dia semata. Laa ilaaha illallaah, tidak ada tuhan kecuali hanya Dia…!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *